
Desember merupakan salah satu periode dengan curah hujan tertinggi di Indonesia. Kondisi lembap, genangan air, serta peningkatan risiko banjir menciptakan lingkungan yang ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Artikel ini membahas penyakit yang sering meningkat pada musim hujan—terutama Demam Berdarah Dengue (DBD), infeksi saluran napas, dan leptospirosis—disertai bukti ilmiah dari literatur kesehatan. Di akhir artikel, pembaca diajak untuk mempertimbangkan pencegahan dini melalui vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan di Medizen sebagai langkah proteksi menjelang puncak risiko penyakit musiman.
Musim hujan di Indonesia biasanya memuncak pada Desember. Meskipun hujan membawa udara lebih sejuk, peningkatan kelembapan dan genangan air juga dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi tertentu. Dengan memahami pola penyakit musiman, masyarakat dapat melakukan pencegahan secara lebih tepat—termasuk vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan.
Penyakit yang Meningkat Pada Musim Hujan
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD menjadi salah satu penyakit yang paling sering meningkat ketika memasuki musim hujan. Curah hujan tinggi menciptakan banyak genangan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, vektor utama dengue.
Beberapa penelitian di Indonesia menemukan bahwa peningkatan kelembapan dan curah hujan berkaitan dengan lonjakan kasus dengue, terutama pada penghujung tahun hingga awal tahun berikutnya (Wibawa et al., 2024; Juwita, 2025).
Pencegahan:
- Menghilangkan genangan air
- Menggunakan obat anti-nyamuk
- Vaksinasi dengue untuk kelompok usia yang sesuai
2. Flu, ISPA, dan Penyakit Pernapasan Lain
Musim hujan membuat aktivitas masyarakat lebih banyak dilakukan di dalam ruangan. Ruangan tertutup dengan ventilasi kurang baik dapat meningkatkan penularan virus pernapasan seperti influenza.
Menurut penelitian tentang pola musiman influenza di negara tropis, Indonesia sering mengalami peningkatan kasus flu pada Desember hingga Januari (Saha et al., 2014).
Pencegahan:
- Vaksin influenza tahunan
- Mencuci tangan
- Menghindari kerumunan bila sakit
- Istirahat dan asupan nutrisi cukup
3. Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan sering muncul setelah banjir. Banjir dapat mencemari air dengan urine hewan—khususnya tikus—yang membawa bakteri tersebut.
Studi epidemiologi di beberapa kota besar menunjukkan peningkatan kasus leptospirosis setelah banjir besar pada musim hujan, terutama karena kontak kulit dengan air banjir (laporan epidemiologi Jakarta 2019–2020).
Pencegahan:
- Menghindari kontak langsung dengan air banjir
- Menggunakan pelindung seperti sepatu boots
- Membersihkan luka sebelum beraktivitas di area lembap
Mengapa Pencegahan Dini Penting pada Desember?
Desember adalah momen ketika:
- Risiko penyakit meningkat secara alami
- Aktivitas masyarakat bertambah (liburan, perjalanan, pertemuan keluarga)
- Sistem imun sering melemah akibat kelelahan akhir tahun
Karena beberapa penyakit seperti influenza dan dengue memiliki vaksin, pencegahan melalui imunisasi dapat memberikan perlindungan signifikan sebelum tubuh terpapar. WHO juga menekankan bahwa waktu vaksinasi yang optimal mengikuti pola musiman setempat agar proteksi maksimal tercapai.
Kenapa Waktu Terbaiknya Adalah Sekarang?
- Puncak risiko penyakit terjadi di Desember–Januari
- Vaksin membutuhkan waktu untuk membentuk antibodi (biasanya 10–14 hari)
- Lonjakan permintaan layanan kesehatan dan vaksin di akhir tahun membuat slot cepat penuh
Karena itu, mengambil langkah pencegahan lebih awal sangat direkomendasikan untuk melindungi diri dan keluarga.
Pemeriksaan dan Vaksinasi di Medizen: Langkah Bijak Menjelang Musim Penyakit
Untuk meminimalkan risiko selama musim hujan, masyarakat dapat melakukan vaksinasi influenza, pemeriksaan kesehatan, serta konsultasi mengenai kebutuhan vaksin dengue di Medizen Clinic. Tenaga medis berpengalaman akan membantu menentukan jenis vaksin yang sesuai dengan kondisi dan usia pasien.
Segera lakukan pencegahan sebelum risiko memasuki puncaknya.
Referensi
1. Saha S., et al. (2014). Influenza seasonality and vaccination timing in the tropics. PLoS One.
2. Wibawa B.S.S., et al. (2024). The impact of climate variability on dengue fever risk in Indonesia.
3. Juwita D. (2025). Analisis hubungan curah hujan dan kejadian DBD di Surabaya. Indonesian Journal of Infectious Diseases.
4. Laporan Epidemiologi Leptospirosis Jakarta 2019–2020.
5. World Health Organization. Seasonal influenza and vaccination timing guidance.




