
Puasa merupakan perubahan pola hidup yang signifikan bagi tubuh. Saat seseorang beralih dari pola makan normal dengan asupan rutin beberapa kali sehari ke pola puasa dengan periode tanpa asupan kalori selama belasan jam, tubuh tidak langsung beradaptasi secara instan. Proses ini melibatkan perubahan metabolik, hormonal, dan seluler yang cukup kompleks.
Banyak orang merasakan gejala di awal puasa seperti lemas, sakit kepala, sulit fokus, hingga penurunan energi. Kondisi tersebut bukan tanpa alasan. Secara fisiologis, tubuh sedang melakukan penyesuaian besar dalam sistem energinya. Artikel ini membahas secara ilmiah apa yang terjadi pada tubuh saat baru memulai puasa serta mengapa pemeriksaan kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan puasa tetap aman dan optimal.
Perubahan Sumber Energi: Dari Glukosa ke Lemak
Dalam kondisi normal, tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Glukosa berasal dari karbohidrat yang dikonsumsi dan disimpan dalam bentuk glikogen di hati serta otot.
Ketika seseorang mulai berpuasa, perubahan metabolik terjadi secara bertahap. Pada 6–12 jam pertama, tubuh masih menggunakan glukosa dari makanan terakhir. Setelah cadangan glikogen hati menurun, tubuh mulai beralih ke sumber energi alternatif, yaitu lemak.
Proses ini dikenal sebagai metabolic switching atau peralihan metabolik dari pembakaran glukosa menuju pembakaran asam lemak dan produksi badan keton. Longo dan Mattson dalam publikasi di New England Journal of Medicine (2014) menjelaskan bahwa peralihan ini merupakan respons fisiologis alami tubuh terhadap periode tanpa asupan kalori. Badan keton yang dihasilkan tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga berperan dalam regulasi stres oksidatif dan inflamasi sel.
Namun, fase peralihan ini sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman pada awal puasa karena tubuh belum sepenuhnya efisien menggunakan lemak sebagai bahan bakar utama.
Perubahan Hormonal Saat Memulai Puasa
Transisi dari pola makan normal ke puasa juga memicu perubahan hormon yang signifikan. Kadar insulin menurun karena tidak ada asupan glukosa dari makanan. Penurunan insulin ini memungkinkan tubuh memecah cadangan lemak menjadi energi melalui proses lipolisis.
Sebaliknya, kadar glukagon meningkat untuk membantu mempertahankan kadar glukosa darah melalui pemecahan glikogen dan glukoneogenesis. Anton et al. dalam jurnal Cell Metabolism (2018) menjelaskan bahwa penurunan insulin dan peningkatan pembakaran lemak merupakan bagian dari adaptasi metabolik yang mendukung efisiensi energi jangka panjang.
Meskipun perubahan ini secara umum menguntungkan, pada fase awal adaptasi dapat muncul gejala seperti pusing ringan, lelah, penurunan konsentrasi, dan bahkan perubahan tekanan darah.
Respons Seluler dan Proses Autophagy
Selain perubahan metabolik dan hormonal, puasa juga memengaruhi proses di tingkat sel. Salah satu mekanisme penting yang sering dibahas dalam literatur ilmiah adalah autophagy, yaitu proses pembersihan komponen sel yang rusak dan daur ulang struktur seluler.
Mattson et al. dalam Nature Reviews Neuroscience (2018) menjelaskan bahwa pembatasan asupan energi secara periodik dapat mengaktifkan jalur biologis yang meningkatkan ketahanan sel terhadap stres. Mekanisme ini berpotensi mendukung kesehatan metabolik dan fungsi sel dalam jangka panjang.
Namun, penting dipahami bahwa manfaat ini terjadi dalam konteks kondisi tubuh yang sehat dan terkontrol. Jika seseorang memiliki gangguan metabolik tersembunyi, defisiensi nutrisi, atau masalah tekanan darah, fase awal puasa bisa memicu ketidakstabilan kondisi tersebut.
Gejala Awal yang Sering Terjadi Saat Baru Memulai Puasa
Perubahan dari lifestyle pola normal ke lifestyle pola puasa dapat memunculkan beberapa respons tubuh yang umum terjadi, terutama dalam beberapa hari pertama, antara lain penurunan energi karena adaptasi metabolik, sakit kepala akibat perubahan kadar gula darah dan cairan tubuh, rasa lemas akibat dehidrasi ringan atau ketidakseimbangan elektrolit, serta gangguan fokus akibat transisi sumber energi otak dari glukosa ke keton.
Dalam kondisi normal, gejala ini bersifat sementara. Namun jika berlangsung berlebihan atau disertai keluhan berat seperti pusing ekstrem, jantung berdebar, atau tekanan darah turun drastis, maka evaluasi medis sangat dianjurkan.
Mengapa Pemeriksaan Kesehatan Sebelum dan Saat Puasa Sangat Penting
Tidak semua tubuh merespons puasa dengan cara yang sama. Faktor usia, riwayat penyakit, status gizi, komposisi tubuh, serta kondisi metabolik individu sangat memengaruhi proses adaptasi.
Pemeriksaan kesehatan sebelum atau selama menjalani puasa memiliki urgensi yang jelas. Evaluasi kadar gula darah, profil lipid, fungsi hati, fungsi ginjal, serta status elektrolit dapat membantu mendeteksi risiko yang mungkin tidak disadari sebelumnya. Defisiensi mikronutrien seperti vitamin B kompleks, vitamin D, atau zat besi juga dapat memperburuk rasa lemas selama puasa.
Tanpa pemeriksaan yang tepat, seseorang mungkin mengabaikan gejala yang sebenarnya merupakan tanda gangguan metabolik atau ketidakseimbangan fisiologis.
Solusi yang Relevan di Medizen Clinic
Medizen Clinic menyediakan layanan yang relevan untuk membantu tubuh beradaptasi secara optimal saat memulai puasa. Medical check-up komprehensif dapat membantu menilai kondisi metabolik dan mendeteksi potensi gangguan sejak dini. Pemeriksaan status nutrisi membantu memastikan tubuh memiliki cadangan mikronutrien yang cukup untuk mendukung proses adaptasi metabolik.
Selain itu, layanan vitamin booster therapy dapat membantu menjaga stamina dan mendukung keseimbangan nutrisi pada individu yang mengalami kelelahan berlebihan selama puasa. Pendekatan ini bukan sekadar solusi instan, tetapi bagian dari strategi kesehatan preventif untuk memastikan puasa berjalan aman dan produktif.
Jika tubuh menunjukkan tanda adaptasi yang tidak wajar, menunda pemeriksaan hanya akan meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius. Pemeriksaan dini memberikan kesempatan untuk intervensi cepat dan tepat.
Kesimpulan
Saat seseorang baru memulai puasa, tubuh mengalami perubahan signifikan dari penggunaan glukosa menuju pembakaran lemak melalui proses metabolic switching. Perubahan ini melibatkan adaptasi hormon, metabolisme, serta respons seluler seperti autophagy. Meskipun secara umum bermanfaat, fase awal puasa dapat menimbulkan gejala sementara yang memerlukan perhatian.
Memastikan kondisi tubuh dalam keadaan optimal sebelum dan selama puasa merupakan langkah preventif yang penting. Evaluasi kesehatan secara menyeluruh membantu mengurangi risiko dan memastikan manfaat puasa dapat diperoleh secara maksimal.
Konsultasi dan pemeriksaan di Medizen Clinic dapat menjadi langkah strategis untuk memastikan tubuh Anda siap menjalani transisi metabolik dengan aman dan efektif.
Referensi
- Longo, V. D., & Mattson, M. P. (2014). Fasting: Molecular mechanisms and clinical applications. New England Journal of Medicine, 371(3), 254–262.
- Anton, S. D., et al. (2018). Flipping the metabolic switch: Understanding and applying the health benefits of fasting. Cell Metabolism, 27(1), 12–38.
- Mattson, M. P., et al. (2018). Impact of intermittent fasting on health and disease processes. Nature Reviews Neuroscience, 19(2), 63–80.




