Skip to main content

Leptospirosis: Infeksi Serius dari Urin Tikus yang Sering Diremehkan

Pernah dengar soal penyakit Leptospirosis? Mungkin terdengar asing di telinga, tapi penyakit ini bisa menjadi serius—bahkan mengancam nyawa—jika tidak segera dikenali dan ditangani. Apalagi di musim hujan atau setelah banjir, risikonya meningkat drastis.

Lalu, sebenarnya apa itu leptospirosis? Bagaimana gejalanya? Dan pemeriksaan apa yang bisa memastikan diagnosisnya? Yuk, kita kupas satu per satu.

Apa Itu Leptospirosis?

Leptospirosis adalah infeksi bakteri Leptospira interrogans yang ditularkan melalui urin hewan yang terinfeksi, paling sering dari tikus. Penularannya terjadi saat manusia kontak langsung dengan air atau tanah yang terkontaminasi, terutama jika ada luka terbuka atau saat berjalan tanpa alas kaki di genangan air.

Menurut World Health Organization (WHO), leptospirosis diklasifikasikan sebagai penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan wabah, terutama di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi (WHO, 2003).

Gejala Leptospirosis: Mirip Flu, Tapi Bisa Parah!

Gejala leptospirosis biasanya muncul 5–14 hari setelah terpapar bakteri. Gejalanya bisa ringan hingga berat dan sering kali menyerupai flu biasa, seperti:

  • Demam tinggi mendadak
  • Nyeri otot (terutama di betis dan punggung)
  • Sakit kepala
  • Mata merah
  • Mual dan muntah
  • Diare

Namun pada kasus yang berat, infeksi bisa berkembang menjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, hepatitis, meningitis, bahkan sindrom Weil—yang ditandai dengan ikterus, pendarahan, dan kegagalan organ (Bharti et al., 2003).

Pemeriksaan yang Diperlukan untuk Diagnosis Leptospirosis

Karena gejalanya mirip banyak penyakit lain, diagnosis leptospirosis tidak bisa hanya berdasarkan gejala, melainkan perlu didukung pemeriksaan laboratorium, seperti:

  1. Tes Urine – untuk mendeteksi ekskresi bakteri melalui urin
  2. Tes Darah Lengkap – melihat tanda-tanda infeksi dan gangguan fungsi organ
  3. Serologi ELISA IgM – mendeteksi antibodi terhadap Leptospira
  4. PCR (Polymerase Chain Reaction) – untuk konfirmasi dini infeksi dengan sensitivitas tinggi

Menurut studi oleh Levett (2001), metode serologi dan PCR merupakan pendekatan yang paling akurat untuk menegakkan diagnosis leptospirosis secara dini dan tepat.

Pencegahan dan Kenapa Harus Cek Sejak Dini?

Pencegahan terbaik adalah hindari kontak dengan air banjir atau genangan yang kotor, gunakan alas kaki, dan tutup luka dengan benar. Tapi jika kamu sudah mengalami gejala mencurigakan, pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk mendeteksi dini dan mencegah komplikasi serius.

Ayo Cek di Laboratorium Medizen Clinic!

Jangan menunggu sampai terlambat. Jika kamu baru saja kontak dengan air banjir atau mulai merasakan gejala seperti demam dan nyeri otot, segera lakukan pemeriksaan.
📍 Di Laboratorium Medizen Clinic, kamu bisa melakukan:

  • Tes urine
  • Tes darah
  • Tes serologi dan PCR
    Dengan harga terjangkau dan hasil yang cepat.

Cek urine cuma Rp75.000 saja!
💬 Hubungi kami sekarang dan booking pemeriksaan kamu!

Referensi:

  • Bharti AR, Nally JE, Ricaldi JN, et al. (2003). Leptospirosis: a zoonotic disease of global importance. The Lancet Infectious Diseases, 3(12), 757–771. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(03)00830-2
  • Levett PN. (2001). Leptospirosis. Clinical Microbiology Reviews, 14(2), 296–326. https://doi.org/10.1128/CMR.14.2.296-326.2001
  • World Health Organization. (2003). Human leptospirosis: guidance for diagnosis, surveillance and control. WHO Library Cataloguing-in-Publication Data.
dr. Bryan John Junior

Graduated from Atma Jaya University, Dr. Bryan is known as a detail-oriented doctor who is dedicated fully to his patients.He consistently offers positive, lasting outcomes to her patients by recognizing their conditions and adapting treatments to their individualized needs.

Leave a Reply